1/25/14

Ramah Bukan Berarti Menghargai

Berkenaan dengan tema “Penghargaan pada Kepioniran Adalah Jalan menuju Kemajuan Bangsa” yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul “Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat” di www. darwinsaleh.com saya berpandangan bahwa saya setuju karena sikap menghargai itu bukan hanya sebagai sebatas formalitas belaka, namun juga sebagai tolak ukur moralitas bangsa Indonesia. Selain itu penghargaan terhadap kepioniran juga dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk menjadi semakin lebih baik dari sisi prestasi hingga usahanya dalam membuat Indonesia menjadi lebih maju. Motivasi adalah salah satu faktor krusial yang menentukan kualitas suatu hasil.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang.
Oleh karena itu, perkenankanlah saya mengenalkan diri terlebih dahulu, sebelum berceloteh panjang.

Halo semuanya. Nama saya Selma dan saya berumur 17 tahun. Saya adalah generasi masa depan; apa yang terjadi sekarang akan berdampak pada generasi saya, dan generasi saya menggenggam possibilities. Di tangan kami ada masa depan Indonesia.

Saya masih muda, dan saya belum bisa menciptakan sesuatu yang dapat membantu Indonesia secara signifikan. Saya juga tentunya belum sanggup untuk terjun langsung ke dunia politik untuk memperbaiki keretakan di struktur negara dan memperbaiki Indonesia pelan - pelan dari dalam. Saya masih perlu banyak belajar, dan saya tahu berbicara itu lebih mudah daripada melakukan. Tapi dengan kompetisi kali ini, saya senang karena akhirnya saya setidaknya dapat menyampaikan pendapat dan ide - ide saya lewat cara yang saya nikmati, yaitu menulis.

Banyak turis berkata bahwa Indonesia adalah negara yang ramah di bandingkan negara - negara yang menganut kebudayaan barat. Dalam pengalaman saya berpergian pun saya memang harus mengakui bahwa suasana kekeluargaan di Indonesia belum ada yang menandingi. Namun sayangnya, sikap ramah itu ternyata  belum dapat diimbangi dengan respect. 

Mari kita ambil contoh di kehidupan sehari - hari anak SMA seperti saya. Sering kali adik kelas takut terhadap kakak kelasnya, sehingga mereka menjadi kelewat ramah terhadap para seniornya. Keramahan tersebut tidak didasari oleh rasa hormat, tetapi lebih kepada rasa takut. Disini dapat dilihat bahwa rasa hormat itu bukan sesuatu yang gratis, bukan sesuatu yang mudah didapat. Untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain, you have to earn it first. 

Masalahnya di Indonesia adalah, orang - orang yang patut mendapat rasa hormat justru tidak di hormati. Orang - orang yang ingin membuat Indonesia maju justru dicaci maki atau dilupakan seperti angin lalu. Lalu, apa gunanya berjasa bila hanya akan dilupakan? Terkadang pengorbanan yang harus mereka lakukan justru lebih banyak daripada penghargaan yang mereka dapat. Dan disini saya tidak berbicara tentang piagam dan uang, ini jauh lebih dari itu. Ini sikap penghargaan masyarakat terhadap seseorang yang telah berjasa. 

Sedih rasanya melihat para veteran yang sudah tua dan hidup tidak berkecukupan. Mereka berperang untuk Indonesia tanpa pamrih, demi kemerdekaan. Tapi coba tanyakan dirimu sendiri, setulus apapun kamu dalam memperjuangkan negaramu sendiri, kamu juga ingin dihargai dan diakui. Berperang itu tidak mudah, bayangannya akan selalu ada di benakmu seperti mimpi buruk yang selalu menghantui. Setidaknya pengakuan dan pemberian pekerjaan yang layak sudahlah cukup, tidak perlu berneko - neko. Pantaskah seseorang yang telah melewati masa mudanya berperang, menaruh nyawanya di ujung sebuah bambu, bekerja menjadi tukang bajaj di usia tua di negara yang bebas dari penjajah karena usahanya sendiri?

Contoh lain adalah kurangnya penghargaan terhadap para atlet, terutama atlet senior. Kasusnya hampir mirip dengan para veteran. Para atlet berjuang agar bendera Indonesia dapat berkibar, bedanya bukan lewat tombak, tetapi lewat olahraga. Saya tidak sengaja melintasi halaman berita elektronik yang membahas hal ini. Lewat situ bisa disimpulkan bahwa nasib atlet senior tidaklah terjamin. Setelah usahanya bertahun - tahun mengharumkan nama bangsa di masa muda, rasanya masih belum cukup untuk menjamin masa tuanya. Bahkan sering kali pada saat mereka tidak berhasil membawa pulang sebuah medali, mereka justru dicaci maki. Lama - kelamaan generasi baru tidak akan ada yang mau menjadi atlet, memikirkan masa depannya yang belum tentu terjamin. Lalu siapa yang akan mengharumkan nama bangsa di ranah olahraga?

Indonesia juga masih kurang penghargaan terhadap seni dan para seniman. Kalau hanya sebatas kasat mata, mungkin kesannya menjadi seniman itu mudah; mengandalkan bakat dan tanpa beban yang berat. Sering kali saya mendengar, “kalau mau jadi seniman keluar negeri aja, di Indonesia gajinya kecil”. Dan sejujurnya, bila ada teman saya yang ingin menjadi seniman, saya pun akan berkata seperti itu. Lihat Bali sebagai contoh. Bali yang bukan terkenal hanya karena pantainya saja, tapi juga kekentalan seni budaya lokalnya. Memang ada seniman yang menjual karyanya dengan mahal, namun tidak sedikit juga yang banting harga. Hal tersebut terjadi karena kurangnya apresiasi masyarakat terhadap sebuah seni, sehingga para seniman lebih memilih menjual karyanya dengan murah daripada tidak laku. Padahal diluar negeri, seniman itu adalah pekerjaan dianggap serius, yang kastanya tidak kalah dengan orang - orang berjas. 

Para seniman itu berkarya untuk menjaga kebudayaan Indonesia yang sejujurnya tidak ternilai harganya. Namun kebanyakan dari mereka justru pada akhirnya beralih profesi, karena profesi seniman tidaklah cukup menghidupi biaya hidup.

Melanjutkan tulisan Bapak Darwin Saleh di blognya, berkaitan dengan cerita menyedihkan tentang seorang dokter muda yang meninggal saat bertugas di daerah terpencil di Indonesia. Saya tersentuh mendengar cerita tentang seseorang berhati besar, yang tidak mempedulikan kondisi tubuhnya sendiri, yang begitu tulus ingin membuat Indonesia lebih maju, begitu tulus ingin membantu. Namun sebesar apapun hati beliau, kematiannya tidak lain dan tidak bukan juga sebagian adalah kesalahan pemerintah. Terkadang kita terlalu sibuk dengan apa yang besar, sehingga kita lupa bahwa diluar sana banyak detil kecil yang butuh diperhatikan juga. 

Indonesia sangatlah luas, tidak mudah memang untuk memantau daerah sebesar ini, berpulau - pulau pula. Salah satu faktor utamanya adalah transportasi umum yang tidak memadai. Tetapi Indonesia sesungguhnya bisa saja mewujudkan kesinambungan antar pulau, pelan - pelan tapi pasti. Indonesia memiliki modalnya kok, hanya saja uang - uang yang sesungguhnya bisa untuk pembangunan justru pergi ke arah yang salah. Antara di korupsi, atau digunakan untuk hal yang tidak seharusnya. Bicara tentang subsidi, saya rasa subsidi BBM sudah mencapai kuota yang terlalu berlebihan. 

Saya mengerti tujuan utama subsidi BBM, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyejahterakan rakyat yang kurang mampu. Namun pada kenyataannya, subsidi tersebut juga di gunakan oleh rakyat yang berkecukupan. Kenapa tidak subsidi BBM dikurangi dan pelaksanaannya diperketat dengan subsidi tertutup, lalu uang yang seharusnya untuk subsidi BBM itu dipergunakan untuk membangun sarana angkutan umum yang memadai? Salah satu alasan mengapa orang Indonesia justru memilih kendaraan pribadi adalah karena angkutan umumnya kurang memadai, dan pengeluaran antara naik angkutan umum dan naik motor (salah satu kendaraan yang sangat diminati masyarakat) kurang lebih sama. Saya sendiri sejujurnya sudah tidak kuat lagi menghadapi kemacetan, pada suatu hari saya bertekad untuk naik kereta ke sekolah. Namun sayangnya tidak ada jalur kereta yang melewati daerah rumah saya maupun sekolah, begitu pula Busway. Sedangkan angkot ataupun metro mini kuranglah nyaman, belum lagi ditambah dengan kemacetan, dan karena saya punya kendaraan pribadi, mengapa repot - repot naik angkutan umum? 

Disitulah masalahnya. Kami terkadang tidak punya jalur alternatif lain. Selain itu subsidi BBM yang tinggi semakin mendorong orang - orang untuk memiliki kendaraan pribadi. 

Pemerataan subsidi BBM seperti yang ada di blog post Bapak Darwin Saleh juga menjadi masalah. Karena transportasi dari ibukota ke tempat terpencil sangatlah rumit, sehingga pada saat sampai di tempat itu, harga tidaklah lagi murah. Coba saja kalau subsidi BBM diperkecil sedikit, sisa uang akan sangat bermanfaat bagi pembangunan yang menyeluruh, termasuk pembangunan fasilitas transportasi dan distribusi. Pemerintah harus sadar akan ketidakmerataan subsidi yang terjadi di Indonesia ini dan bergerak cepat dalam mengatasinya. Karena kembali lagi ke pokok utama: rakyat di daerah terkecil akan merasa terlupakan dan tidak dihargai sebagai rakyat Indonesia yang seharusnya memiliki hak yang sama seperti kami yang ada di ibukota. Bagaimana mau mencintai negara yang melupakannya?

Lets say subsidi BBM diturunkan, dapat dipastikan akan ada pemberontakan. Dan kemungkinan akan ada inflasi. Kalaupun akan menggunakan uang subsidi untuk menyediakan transportasi umum yang memadai, akan butuh waktu lama. Saya dengar akan ada sistem subsidi BBM tertutup tahun ini, dimana para pembeli BBM yang disubsidi harus memiliki kartu khusus. Mengapa tidak para angkutan umum diberi keistimewaan untuk menggunakan BBM bersubsidi, sehingga orang biasa akan naik angkutan umum yang jatuhnya lebih murah. 

Kembali lagi pada kasus protes memprotes. Terkadang orang Indonesia kurang melihat secara keseluruhan, mereka hanya ingin enaknya saja. Kurang peduli dengan ekonomi dan pembangunan negara. 

Bila digali lebih dalam, ini semua kembali lagi ke akarnya, yaitu pendidikan. Demi kemajuan bangsa, pendidikan harus ditingkatkan. Kurikulum harus diperbaharui agar semakin baik dan mengikuti perkembangan zaman. Dalam usaha pencapaian pendidikan yang maksimal, semua tertuju pada satu hal: kualitas gurunya. Mari kita kembali ke tema utama penulisan saya yaitu penghargaan.

Sering kali guru di Indonesia kurang dihargai dalam berbagai aspek, mau itu gaji yang kurang cukup atau pengakuan bahwa guru sangatlah berjasa dalam menghasilkan generasi penerus bangsa yang gemilang. Mari kita lirik sistem pendidikan negara tetangga kita, Singapura. Demi melahirkan generasi yang cerdas, mereka mengambil lulusan - lulusan terbaik untuk dijadikan guru, dengan gaji yang sangat menjamin tentunya. Bahkan gaji guru di Singapura adalah gaji guru terbesar sedunia. Sehingga para guru di Singapura merasa dihargai, dan menjalani profesinya dengan sepenuh hati. 

Saya yakin Indonesia bisa menjadi negara yang lebih maju suatu hari nanti. Tapi saya rasa semua itu kembali pada satu hal krusial yaitu pendidikan. Penghargaan terhadap guru harus lebih ditingkatkan, sehingga produk alias generasi muda yang dihasilkan lebih berkualitas. Dari situ kita bisa pelan - pelan menuju masa kejayaan yang telah lama kita impikan. Indonesia memiliki banyak potensi, jauh daripada negara yang lain. Saya yakin akan hal itu.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan”