12/30/13

Are you calling it a life?


At the end if the day, what is more pathetic than a girl who cries herself to sleep at night? Who wakes up with dizzy head in the morning. With unwanted feelings linger in her head. With no one to talk to while breakfast, and to fake a smile through the day. Then wrap herself up under the blanket at night, turn the lights off, and it all comes back at her like a sudden thunder, and she cries herself to sleep again.

*

30 Des 2013
* * *
Salah aku ini apa?

* * *

Pernahkah kamu menangis, tetapi bukan karena kesedihan maupun amarah?

Lalu kamu sadar,

kamu mati rasa. Kamu lelah. Dan kamu cuma ingin dimengerti. 

Tapi sepertinya apapun yang kamu lakukan salah, bahkan menjadi dirimu sendiri tidaklah benar.



Pernahkah kamu terlalu lelah, kamu bahkan tidak bisa berkata kata. Bahkan sesungguhnya untuk menangispun sudah tidak sanggup. Setiap teriakan tangis dan air mata yang memaksa ingin keluar, menghabiskan tenagamu yang sudah sekarat. Untuk berbicarapun kamu terlalu lelah. Kamu bisu, tapi kamu tidak tuli. Kamu mendengar. Kamu mendengar apa yang mereka katakan, yang seharusnya menyakitkanmu. Membuatmu sedih atau bahkan marah. 

Tapi kamu mati rasa.

Lagipula, untuk apa berbicara?
Memang ada yang mendengar?
Memang ada yang peduli?



Does it matter? Will it change something?


No.



Kamu terlentang tidur diatas kasurmu. Hidung tersumbat, hanya bisa bernafas dari mulutmu. Air matamu keluar dengan derasnya. Kamu lelah. Apakah kamu lelah? 

Kamu tidak tahu lagi.

Apakah ini lelah, sedih atau marah? Atau mati rasa? Kamu menangis, dan kamu putus asa. Tapi kamu tidak bisa memutuskan perasaanmu. Sedih? Marah? Apakah putus asa itu sebuah perasaan? Atau sebuah sikap?

Aku ini kenapa?

Yang salah denganku ini apa?


Yang salah itu diriku, dirimu atau hidup? Yang salah itu pilihan yang kita ambil, atau cara kita menjalani pilihan itu?


Dulu aku pernah hancur juga — berkali kali, sungguh.

Terjatuh dan terpecah belah bukan hal yang baru bagiku. Tapi aku tak menyangka ada yang lebih menyakitkan dari kehancuran yang dulu kulewati — yang sekarang ini.

Aku lelah. Aku lelah. Cuma itu yang bisa muncul dipikiran.

Aku bingung ini salah siapa? Salah kamu atau salah aku? Aku ingin bicara padamu, tapi kamu tak akan pernah mengerti. Bahkan untuk mencoba mengerti saja tidak.

Dan aku terlalu lelah. Terlalu lelah mengalah, terlalu lelah dianggap salah.

Terlalu lama ditodong pisau mengkilatmu, terlalu lama bertahan dan menjauh dari ujung tajamnya. Terlalu lama. Terlalu berat sebelah, terlalu tidak adil. Terlalu kalah. Terlalu lelah. 

Tusuk saja sekarang, sungguh.


Biarkan aku kalah untuk selamanya. Lebih baik mati daripada bertahan seumur hidup. Dari pada berjalan di labirin gelap mencari matahari yang tak kunjung terlihat, lebih baik aku menyerah dan tidur lelap di dalam gelap.

Terlalu lama aku diakatakan salah. Terlalu lama di pandang sebelah mata. Terlalu lama menjadi tersangka. Atas sesuatu yang bukan hanya aku pelakunya. 

Terlalu lama.

Pada akhirnya aku jadi percaya bahwa aku sendirian. Bahwa aku memang bersalah, bahwa aku patut dipandang sebelah mata. Bahwa aku terlalu buruk. 

Dan apa yang lebih buruk daripada membenci dirimu sendiri?

Tidak ada lagi yang percaya dengan dirimu — bahkan dirimu sendiri.

Kenapa begini terus ya Tuhan, didalam raungan tangis terselip pertanyaan itu. Kenapa begini terus.

Aku lelah, tidakkah Kau mendengarku? Mengapa tidak ada yang mendengarku? Mengapa tidak ada? Dari dulu hingga sekarang - hingga aku tak bisa mengucapkan apa apa lagi, saat aku bernafas lewat mulut karena hidungku tak lagi mampu, dan tenagaku hanya cukup untuk tidur terlentang.

Aku berhenti menangis sekarang,

dan aku masih belum bisa meraba perasaanku. 

Aku tidak sedih dan tidak marah. Aku putus asa. Aku mati rasa. Aku mati rasa dan putus asa. 

Dan tidak akan ada yang bisa menyelematkanmu. Kecuali dirimu sendiri.

Tapi diriku sudah putus asa. 

Dan aku benci diriku sendiri.




Biarlah aku terlelap di lorong gelap.

* * *

Lalu lima menit kemudian kamu menangis lagi. Kau kira sengsaramu sudahlah usai, tapi tidak. Dia datang lagi.

Kosong.

Lelah.

Mati rasa.

Putus asa.

Lalu kenapa kau menangis?

* * *

Give me a gun, my friend, and i'll shoot my head.

* * *

I thought i was in recovery, i really thought it all could somehow come to an end.


Senaif itu gue.

-

Great. Now i'm ruining the countdowns.. Lol.

When mouth cant no longer speak - its words that save me. And i just realized how writing helped me so much all these years. This is my therapy, and i don't know what to do without it.

The second you walked out that door, i locked it and cried so loudly hoping at least a soul would hear. If there was a knife i probably would have cut myself — because i was so fucking depressed.

Like, its better to be wounded physically than mentally, you know. And thats why people cut. I realized that yesterday. 

And i couldn't think straight that i just wanted to speak, to speak to myself, just to make me calm. Because nobody else was here. But I couldn't. Because even speaking to myself was too much.



So i wrote instead, and it helped.

-




Some words might sound so tumblr-y; but its all mine. Xx