10/3/13

Es em a

Makin lama, sekolah makin berat ya. 

Taruhannya udah masa depan. Messed up sedikit, masa depan impian makin susah untuk dicapai. Bahkan, lebih pusing lagi kalo belom tau mau jadi apa. Jalan maju, tapi nggak tau kemana. Belok kanan, lurus atau belok kiri? Semua taruhannya masa depan, dan dalam satu tahun di kelas 1 SMA, kita diberi tanggung jawab besar dalam mengambil keputusan. Udah masuk jurusan yang diinginkan, masih lagi berjuang buat undangan dan snmptn. Pelajaran semakin susah, sekolah makin melelahkan. Sampai rumah mau ngulang, tapi melek bahkan gak bisa. Musim ulangan nggak sempat tidur, hanya demi angka-angka di rapot yang nanti pada akhirnya bisa memudahkan kita mendapatkan apa yang kita mau. Tapi lawannya terlalu banyak, ya. Nggak mau mengeluh, tapi sepertinya mau usaha segimanapun juga nggak akan pernah cukup. Di rumah bukannya didukung, justru malah nggak ada yang ngerti gimana susahnya sistem saat ini. Bukannya saya ambisius, saya bahkan buka tipe anak yang berangan - angan dapat 100. Tapi saya sudah berusaha, tapi tetap gagal juga. Katanya sih bersusah susah dahulu bersenang senang kemudian. 'Susah' itu artinya belajar atau mendapat nilai bagusnya? Senangnya di bagian apa?

Katanya, bercita-citalah setinggi-tingginya. Untuk saya, bercita-citalah  serealistis realistisnya. Saya mau aiming tinggi juga kok seperti orang lain, tapi saya sadar usaha saya harus dobel, bahkan mungkin tripel dari pada yang lain. 

Tapi lalu saya telusuri lagi, saya ini belajar untuk nilai atau pengetahuan? Untuk dapat kuliah atau dapat ilmu? Saya lelah, jujur saja. Saya ingin belajar hal - hal yang menarik bagi saya, bukan belajar agar mendapat universitas terbaik. Saya ingin mengerti dan bukan menghafal. Ingin menelusuri dan bukan hanya mengetahui karena diberi tahu. Saya ingin tahu dari akar, bukan saat sudah menjadi buah saja. 

Saya ingin belajar karena saya suka, bukan karena ulangan. Saya ingin senang karena menguasai sesuatu, bukan menangis karena sebuah angka. Bukan dijatuhkan oleh penilaian objektif, dan bukan dilihat berdasarkan apa yang tertulis di kertas. Saya ingin berargumen, menelusuri dan mengerti, bukan menghafal lalu menjawab a b c d. Nothing against exam. Saya merasa itu dibutuhkan, tapi lebih kepada pengetesan kemampuan, bukan sekedar tes hafalan. 

Saya lelah, jujur saja. Ditambah sekitar saya yang merasakan tekanan yang sama, saya tidak tahu harus berpeluk kemana. Ulangan terbawa tidur, nilai membawa air mata, belajar menguras tenaga. Tetapi namanya juga proses dan fase, saya hanya berharap suatu saat ini worth it.

Lov. Selma. 

(Ini lagi despo nilai, nggak penting emang)